AGAMA DAN PENTINGNYA PERUBAHAN DALAM MASYARAKAT
Oleh : Drs. H. Zaenudin, MM. M.Pd
(Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang)

Dalam kehidupan keseharian, banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa kita sesungguhnya hidup dalam suatu sistim yang diluar kendali kita. Mau tidak mau, suka tidak suka manusia harus patuh terhadap suatu sistim yang telah diciptakan Allah. Manusia hidup melalui tahap demi tahap yang harus dilaluinya, terlepas ia mau atau tidak. Dimulai dari setetes air yang hina (sperma), yang ditempatkan dalam rahim seorang ibu, menjadi segumpal darah, segumpal daging, menjadi janin, bayi yang lemah dalam kandungan seorang ibu. Kemudian lahir sebagai bayi yang lemah tak berdaya. Perlahan tumbuh dari seorang bayi, menjadi anak-anak, terus tumbuh menjadi remaja, dewasa dan kuat, kemudian menjadi tua dan lemah kembali. Itulah perjalan hidup manusia.
Perjalanan hidup manusia identik dengan perubahan dan pertumbuhan dari waktu ke waktu, tidak ada yang tetap dalam hidup semuanya harus berubah. Pendeknya tanpa ada perubahan dalam kehidupan, perubahan ke arah yang lebih baik tentunya, maka dalam bahasa agama disebut sebagai “mal’un” atau terlaknat. Perubahan dimulai dari diri sendiri (fardiah) kemudian berlanjut dalam bentuk perubahan terhadap kehidupan masyarakat (jama’iah). Agama memerintahkan agar umat Islam tidak hanya berubah sendiri namun juga mampu mengubah lingkungan sekitarnya. Masalahnya kemudian bagaimana setiap kita bersedia berkontribusi untuk perubahan di tengah masyarakat?!
Pesan agama untuk menjadi lebih baik
Ketika sepasang anak manusia melakukan perkawinan, pada diri mereka terjadi peralihan status, yaitu dari bujangan dan gadis menjadi beristeri dan bersuami. Secara demografis peralihan ini bermakna perubahan status marital, dari status tidak kawin menjadi status kawin. Status yang baru itu menjadi titik tolak untuk memperoleh status lainnya, di antaranya sebagai menantu dari mertua, sebagai kakak ipar dari adik ipar, dan seterusnya. Semua status itu bersifat statis. Namun, pada masing-masing status itu menuntut aspek dinamis, yakni “peranan yang seharusnya” dilakukan (prescriptive role), yakni hak dan kewajiban suami isteri, hak dan kewajiban sebagai menantu, sebagai ipar, dan seterusnya.
Ketika hak dan kewajiban itu ditunaikan dalam kehidupan keluarga (orientasi dan prokreasi), yakni dalam wujud interaksi, maka terjadi “peranan yang dilaksanakan” (descriptive role atau actual role) oleh masing-masing pihak. Oleh karena itu, keluarga disebut sebagai satuan sosial terkecil, yang di dalamnya, antara lain, terjadi interaksi antar anggota keluarga. Dan tatkala dari interaksi suami isteri itu membuahkan kelahiran anak, maka terjadi tiga perubahan sekaligus. Pertama, perubahan status masing-masing suami dan isteri dan kedua suami isteri. Suami tetap menjadi suami dari isterinya, kemudian menjadi bapak dari anaknya, dan bersama isterinya menjadi orang tua dari anaknya.
McIver (1957: 523) menyatakan, bahwa konsep perubahan sosial dapat didefinisikan secara spesifik, dengan menggunakan tolok ukur tertentu. Ia dapat berarti kemajuan, kemunduran, pertumbuhan, perkembangan, modernisasi, reformasi, revolusi, evolusi, transformasi, adaptasi, modifikasi, dan sebagainya. Kemajuan (progress) atau kemunduran (regress), merupakan perubahan sosial (terutama kultural) yang didasarkan kepada tolok ukur nilai tertentu. Ada unsur penilaian terhadap perubahan sosial, baik pada periode tertentu maupun secara kumulatif.
Agama sendiri mengajarkan pada manusia, ’’Bekerjalah untuk urusan duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya. Tapi, bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati besok.”. Bagaimana manusia dituntut untuk bekerja dan menafkahi dirinya sendiri serta bertanggung jawab pada ekonomi keluarganya bahkan negaranya jika perlu. Perubahan dari pola bermalas-malasan ke arah giat bekerja untuk memenuhi ekonominya. Bagaimana agama menyoroti tentang hal-hal yang menyangkut kelangsungan umat manusia dalam hal ekonomi, meningkatkan etos kerja merupakan suatu yang mutlak jika mau berhasil. Ketika ekonomi seseorang bagus, maka di sektor lain pun akan ikut terdorong meningkat lebih bagus. Sebaliknya, jika ekonomi kita carut-marut, sektor lain pun tidak jauh beda.
Pemimpin dengan orientasi perubahan
Perubahan lingkungan bermasyarakat adalah suatu keharusan, dahulu maupun sekarang. Namun di masa sekarang, kecepatan dan intensitas perubahan lingkungan tersebut pada umumnya berlangsung begitu tinggi, penuh dinamika dan turbulensi. Bahkan, seringkali bersifat diskontinyu sehingga bukan saja menyulitkan, tetapi dapat menjadi kehancuran apabila para pemimpin yang bertanggung jawab dalam masyarakat tertentu tidak memahami bagaimana mendorong terwujudnya kehidupan bermasyarakat yang berubah seiring dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
Untuk itulah dalam kehidupan di mana perubahan sedemikian cepat, dibutuhkan figure-figur pemimpin yang berorientasi pada perubahan (visioner). Dan mengingat pentingnya upaya perubahan sosial di tengah lingkungan yang berubah cepat dan bahkan acapkali bersifat diskontinyu, dan mengingat strategis dan krusialnya bidang-bidang sasaran perubahan serta kompleksnya faktor-faktor yang dapat merintangi upaya perubahan, maka perubahan sosial tersebut seringkali tidak dapat dibiarkan terjadi secara “alamiah” saja. Perubahan perlu dirancang, direkayasa dan dikelola oleh suatu kepemimpinan yang kuat, visioner, cerdas, dan berorientasi pengembangan sebagai agen perubahan.
Perubahan memerlukan kepemimpinan yang kuat dari segi otoritas yang dimilki maupun dari segi kepribadian dan komitmen karena memimpin perubahan dengan segala kompleksitas permasalahan dan hambatannya memerlukan power, keyakinan, kepercayaan diri, dan keterlibatan diri yang ekstra. Seperti yang disebutkan oleh Zaleznik (1986), seorang pemimpin tidak boleh bersikap impersonal, apalagi pasif terhadap tujuan-tujuan organisasi, melainkan harus mengambil sikap pribadi dan aktif. Dengan begitu ia tidak akan mudah patah oleh hambatan dan perlawanan. Ia justru akan bergairah menghadapi tantangan perubahan yang dipandangnya sebagai batu ujian kepemimpinannya (Maxwell, 1995)
Pemimpin perubahan juga harus visioner karena ia harus sanggup melihat cukup jauh ke depan ke arah mana kapal pemerintahannya harus bergerak. Kotter (1990) menyebutkan bahwa memimpin perubahan harus dimulai dengan menetapkan arah setelah mengembangkan suatu visi tentang masa depan, dan kemudian menyatukan langkah orang-orang dengan mengomunikasikan penglihatannya dan mengilhami mereka untuk mengatasi rintangan-rintangan. Semua itu dilakukan tanpa harus bersikap otoriter. Namun, meskipun ia mengundang partisipasi pemikiran dari anggota, tongkat kepemimpinan tetaplah berada di tangannya.
Dan mengingat pentingnya sebuah kepemimpinan yang berorientasi perubahan itulah, adalah keharusan bagi warga masyarakat untuk melakukan segala hal demi mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang berubah kea rah yang lebih baik dengan mendorong figur-figur pemimpin yang memiliki kualifikasi visioner untuk mengelola perubahan di tengah masyarakat, bukan pemimpin yang hanya sekedar menurutkan syahwat berkuasanya dengan membeli suara rakyat demi untuk terus berkuasa tanpa berpikir mencerdaskan, menyejahterakan dan mewujudkan perubahan nyata di tengah masyarakatnya! Sebab demikianlah agama memerintahkan umatnya untuk berubah kea rah yang lebih baik dari waktu ke waktu. Kalau tidak, maka bersiaplah menjadi orang-orang yang terlaknat (mal’un). Wallahu a’lam bishowwab!!