PENDIDIKAN ANAK-ANAK UNTUK MASA DEPAN YANG GEMILANG
Oleh : Drs. H. Zaenudin, MM. M. Pd
(Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani,
Yahudi ataupun Majusi.(HR. Bukhari).

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN), 23 Juli 2009 mencuatkan aneka harapan sekaligus beragam kecemasan terkait nasib anak-anak Indonesia di masa depan. Bagaimana tidak, saat ini kesadaran tentang pentingnya pemerintah memperhatikan kehidupan anak-anak mulai menampakkan hasil yang cukup memuaskan. Bentuk perhatian pemerintah diimplementasikan dengan memberlakukan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU PA) dengan harapan anak-anak mendapatkan perlindungan dari tindakan-tindakan yang tidak manusiawi di sekitarnya.
Jauh sebelum itu, pada 1990 pemerintah Indonesia juga turut menandatangani ratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 36/1990 yang berisi pengaturan tentang perlindungan anak. Dengan demikian Indonesia mau tidak mau, berkewajiban melaksanakan kesepakatan-kesepakatan tindak lanjut dalam memenuhi hak-hak anak sesuai butir-butir konvensi. Dari sini sebetulnya latar belakang tuntutan publik agar pemerintah membuat aturan perundang-undangan yang secara khusus memberikan jaminan perlindungan terhadap nasib anak-anak. Maka lahirlah kemudian UU PA tersebut
Namun persoalannya kemudian, kehadiran payung hukum untuk melindungi hak-hak anak tersebut pada kenyataannya belum mampu menepiskan kekhawatiran terkait perlindungan terhadap anak-anak sebab UU PA sejauh ini belum menunjukkan taring tajamnya untuk paling tidak, membuat kecut orang-orang yang berlaku lalim, sadis bahkan brutal secara fisik terhadap anak-anak. Karenanya jujur harus kita katakan, kehadiran aturan perundang-undangan seketat apapun tanpa kemauan mengubah paradigma berpikir tentang anak, Maka hukum hanya akan menjadi tulisan di atas kertas yang tidak memberi arti apa-apa.
Egoisme orang dewasa
Sebagai gambaran, konvensi internasional tentang anak telah memberikan perhatian yang khusus dalam masalah hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh negara. Misalnya tentang hak hidup (secara fisik), hak identitas (termasuk agama), hak kesejahteraan sosial, hak kesejahteraan ekonomi, hak berserikat dan berkumpul, hak menyatakan pendapat, hak mendapatkan informasi, juga hak mendapatkan perawatan kesehatan. Selain itu konvensi tersebut juga menyebutkan hak perlindungan atas eksploitasi ekonomi maupun seksual, hak perlindungan dari penyalahgunaan obat-obat, hak perlindungan dari kekerasaan, baik pada masa perang dan kerusuhan maupun tidak.
Merujuk sedemikian pedulinya masyarakat internasional terhadap nasib anak-anak yang lantas mendorong banyak pemimpin dunia untuk menyepakati pemberlakuan aturan perundang-undangan untuk melindungi hak-hak anak, maka seharusnya nasib anak-anak di berbagai belahan dunia saat ini semakin baik. Namun yang terjadi dewasa ini, konflik antar negara, perang antar suku dan pertikaian yang berlangsung di berbagai wilayah di dunia acap tidak pernah mempertimbangkan nasib anak-anak dan masyarakat yang tidak pernah tahu bahkan tidak terlibat dalam silang sengkarut tersebut.
Lazimnya dalam berbagai konflik, pertikaian dan perang yang berlangsung, maka anak-anak adalah kelompok yang pertama kali harus menjadi tumbal (martyr) dari keangkara-murkaan dan kebrutalan orang-orang dewasa. Ambivalensi dan egoisme tokoh-tokoh politik dan para pemimpin dunia telah menyebabkan konvensi, hukum, bahkan norma-norma etik yang diharapkan menjadi perisai pelindung bagi anak-anak dari kekerasan menjadi sia-sia belaka. Para pemimpin dunia yang dengan bangga ikut menandatangani rativikasi KHA boleh jadi pada saat bersamaan merupakan penabuh genderang yang menyebabkan jutaan anak-anak menjadi korban kekejaman peperangan dan pertikaian.
Dalam skala mikro, sikap egois orang-orang dewasa juga nampak dalam pergaulan keseharian di tengah rumah tangga. Konflik antara suami dengan istrinya yang kemudian berakhir dengan perceraian menjadi fakta, betapa kehadiran anak-anak tidak pernah menjadi pertimbangan prioritas dalam memutuskan berbagai persoalan yang dialami oleh orang-orang dewasa, khususnya para orang tua yang diberikan amanat oleh Yang Maha Kuasa untuk melahirkan, menafkahi, merawat dan mendidik anak-anak. Lihat saja, angka perceraian yang cukup tinggi di tanah air membuktikan fakta tersebut.
Pribadi independen
Penyair Libanon, Kahlil Gibran berpesan kepada para orang tua, anak-anak yang kamu lahirkan bukanlah anakmu, tetapi mereka adalah anak-anak jaman. Mereka akan hidup dalam asuhan jaman yang berbeda situasi dan tantangannya dengan jaman dimana kamu hidup. Puisi Gibran ini seperti menegaskan Sabda Rasulullah SAW di atas, bahwa anak-anak terlahir dalam keadaan suci layaknya kertas putih tanpa noda, kemudian para orang tualah yang mencoret, memberikan noktah bahkan tak jarang merobek-robek kesucian diri sang anak.
Padahal siapapun tahu, bahwa anak-anak adalah anugerah terindah bagi para orang tua yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, para orang tuapun dihadapkan pada banyaknya persoalan baru yang tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh bakti kepada orang tua, menjadi bintang dan berprestasi di sekolah, disukai kawan dan bisa menempatkan diri dengan baik di tengah lingkungan masyarakatnya. saat-saat seperti itu, para orang tua demikian bahagia melihat sang anak, diceritakannya pada sanak saudara, kolega dan tetangga penuh bangga.
Sementara di lain saat, ketika perilaku si anak semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, di mana tempat menimbulkan kebencian, kerusakan dan banyak melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri serta orang lain, tak jarang berurusan dengan pihak keamanan, orang tua akan berpikir sang anak tidak layak diakui sebagai sosok yang mereka lahirkan. Kita dan banyak orang tua lainnya acap tidak bersedia mengakui secara jujur, bahwa ada yang keliru dalam melakukan pola asuh terbaik dan pendidikan sejak dini. Para orang tua sering merasa paling benar, egois dan pasti tidak keliru. Sebaliknya anak pasti salah, mesti keliru dan bodoh di mata orang tua.
Di tengah euphoria peringatan HAN saat ini, paradigma keliru orang dewasa khususnya para orang tua dalam memandang anak sudah saatnya diakhiri. Negeri ini amat bergantung pada anak-anak untuk mengelola negeri ini di masa yang akan datang. Kita perlu berpikir melampaui jaman ini dan mempersiapkan anak-anak untuk mengatasi tantangan yang kelak akan mereka hadapi pada jamannya. Menggeneralisir problem-problem dan paradigma berpikir di masa lalu dan masa kini dengan masa di mana anak-anak hidup di masa datang adalah sebuah kesalahan keliru. Anak-anak adalah individu independen sama seperti kita dan para orang tua pada umumnya. Kita hanya diwajibkan menyiapkan, memfasilitasi dan memberi ruang seluas-luasnya bagi anak-anak untuk menjadi dirinya sendiri. Bukan memaksanya mengikuti paradigma berpikir kita. Wallahu a’lam bishowwab!