MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG BERDAYA SAING
Oleh : Drs. H. Zaenudin, M. Pd. MM
(Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang)

Hari-hari belakangan, kesibukan dan kehebohan melanda para orang tua yang memiliki anak-anak usia sekolah, mulai dari tingkat dasar dan menengah hingga anak usia sekolah tingkat atas. Awal tahun ajaran baru selalu disesaki oleh harapan, impian dan dambaan para orang tua memperoleh sekolah yang bagus, berkualitas, bonafid, dan lebih dari itu terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka. Tak heran, para orang tua sampai kasak-kusuk mencarikan sekolah-sekolah yang didambakan itu. Tujuannya jelas, agar anak-anak mendapatkan “kereta cepat” untuk meraih masa depan yang gemilang.
Fakta demikian sejatinya tidak perlu terjadi, andaisaja pemerintah mampu menciptakan program pendidikan yang bermutu, dan berdaya saing tinggi secara merata sehingga sekolah manapun yang didirikan mampu menjamin kebermutuan sekaligus terdesin sebagai “kereta express” untuk masa depan anak-anak bangsa yang gemilang serta pada gilirannya dapat menjadi jaminan pula bagi kemajuan, dan kemandirian bangsa Indonesia di era persaingan pada tingkat global mondial. Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita? Sebuah pertanyaan tulus dan mendasar yang membutuhkan kesahajaan dan jiwa besar untuk menjawabnya. Karena tanpa keberanian itu, niscaya kita tak akan pernah melakukan otokritik dan evaluasi mendasar secara internal mengenai apa yang salah dengan diri kita?
Salah urus pendidikan
Dalam sebuah bangsa yang sedang berkembang semacam Indonesia, problem pendidikan yang terjadi lazimnya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh masa lalu yang dipicu oleh berbagai persoalan mendasar seperti politik, ekonomi, budaya, Sumber daya manusia dan seterusnya.Beragam masalah tersebut terus berkembang dari waktu ke waktu, semakin menggurita dan berkelindan satu sama lainnya hingga membentuk sebuah persoalan multi sektor yang kompleks. Apalagi kondisi ekonomi nasional kita hingga kini masih senantiasa membayangi hampir di seluruh sektor pembangunan. Tentu terlampau berat untuk mencukupi kebutuhan pembangunan pendidikan secara ideal.
Hal ini menyebabkan sektor pendidikan teralienasi sehingga berbagai persoalan pendidikan tidak tertangani dengan baik. Akibatnya pengembangan pendidikan di Indonesia selama bertahun-tahun berjalan linear dan monoton. Persoalan pendidikan hanya berkutat pada wilayah doktrinasi vertikal yakni kurikulum secara nasional sebagai pedoman pembelajaran dan mengabaikan sisi terpenting dari pendidikan itu sendiri yaitu pendidik atau guru. Up grading kurikulum pendidikan terasa jauh lebih penting dari pada meng-up grade kompetensi dan kemampuan pendidik sehingga menjadi pendidik yang profesional dan bermutu.
Ada benarnya jika dunia pendidikan kita dianggap sedang “sakit”. Sebab pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, pendidikan justru seringkali tidak memanusiakan manusia. Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang ada. Apa penyakit pendidikan kita? Penyakit yang utama adalah karena salah urus. pendidikan kita sebatas menghasilkan “manusia robot”, pendidikan yang berat sebelah, dan tidak seimbang. Pendidikan kita telah mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berpikir. Sebab ketika orang sedang belajar, maka orang tersebut melakukan berbagai macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, dan sebagainya.
Pendidikan yang kompetitif
Setelah era reformasi berumur satu decade lebih, dan seiring makin jelasnya titik terang dalam menguak tabir politik, ekonomi, dan hukum, sudah tiba saatnya untuk mengurai simpul dasar yang memasung tubuh pendidikan kita. Setidaknya, harus ada “kemauan politik” untuk melakukan revitalisasi pendidikan kemanusiaan, yakni pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang tinggi tingkat apresiasinya terhadap sikap jujur, adil, demokratis, rendah hati, sederhana, kreatif, dan kompetitif.
Makna pendidikan yang hakiki merujuk pada sebuah kondisi yang mampu memberikan ruang kesadaran kepada peserta didik untuk mengembangkan jatidirinya melalui sebuah proses yang menyenangkan, terbuka, tidak terbelenggu dalam suasana monoton, kaku, dan menegangkan. Diakui atau tidak, pendidikan kita selama ini belum sanggup melahirkan generasi yang utuh jatidirinya. Mereka memang cerdas, tetapi kehilangan sikap jujur dan rendah hati. Mereka terampil, tetapi kurang menghargai sikap tenggang rasa dan toleransi. Imbasnya, nilai-nilai kesalehan, baik individu maupun sosial, menjadi sirna
Atmosfer pendidikan yang kurang kondusif semacam itu diperparah dengan situasi lingkungan yang serba permisif, apatis, dan masa bodoh. Pada sisi yang lain, institusi keluarga yang mestinya menjadi penanam nilai-nilai religi, kultural, dan kemanusiaan, dinilai juga telah tereduksi oleh berbagai kesibukan orang tua dalam memburu standar hidup dan gebyar materi. Persoalan pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan formal. Maka pengalaman selama bertahun-tahun telah memberikan pelajaran berharga bahwa pendidikan yang tidak berbasiskan kemanusiaan hanya akan melahirkan manusia yang cerdas dan terampil, tetapi kehilangan hati nurani dan perasaan. Ini artinya, revitalisasi pendidikan kemanusiaan semakin urgen dan relevan untuk diimplementasikan di tingkat praksis agar tidak terapung-apung dalam bentangan slogan, retorika, dan jargon belaka.
Sungguh terasa ironis kalau bangsa kita yang selama ini dokenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi, mengagungkan keluhuran budi, dan kesantunan berperilaku, akhirnya terjebak menjadi bangsa bar-bar, “kanibal”, dan pendendam, hanya lantaran pendidikan yang salah urus. Agaknya, sudah sangat mendesak dunia pendidikan kita disentuh oleh hal-hal yang bersifat humanistis dan religius