MENANAMKAN PENDIDIKAN AKHLAKUL KARIMAH
(Refleksi Menjelang Tahun Ajaran Baru)
Oleh : Drs. H. Zaenudin, M. Pd. MM
(Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang)

Masa persiapan dan pendaftaran siswa baru di tanah air segera dimulai. Para orang tua siswa mulai disibukkan dengan pilihan-pilihan sekolah untuk kelanjutan pendidikan anak-anaknya. Tak kalah sibuknya tentu para penyelenggaran pendidikan di sekolah dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap pemberian layanan terbaik agar semua masyarakat dalam berbagai lapisan dapat memperoleh akses seluas-luasnya untuk memasuki lembaga-lembaga pendidikan yang baik dan berkualitas.
Banyak orang tua yang berharap anak-anaknya dapat masuk ke sekolah-sekolah unggulan dengan fasilitas-fasilitas yang representatif. Meskipun tak sedikit yang cukup berharap, bahwa anak-anaknya memiliki ruang yang kondusif agar aspek kognitif, motorik dan psikomotoriknya berkembang secara wajar serta kelak dapat tampil sebagai pribadi-pribadi yang mandiri dan siap menghadapi tantangan-tantangan zaman pada masanya. Namun secara keseluruhan, para orang tua dan kita semua tentu berharap anak-anak kita memiliki karakter, budi pekerti dan kepribadian yang mulia (akhlakul karimah) melalui layanan pendidikan yang mendukung tujuan luhur tersebut.
Pentingnya Pendidikan budi pekerti
Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan, menekankan betapa pentingnya pendidikan budi pekerti sejak usia dini di sekolah-sekolah. Mata pelajaran ini memfasilitasi siswa-siswi guna mengkaji nilai-nilai kemanusiaan atau humanitas yang terkandung dalam pelbagai agama dan kepercayaan di dunia. Misalnya, tentang prinsip kejujuran, keberanian memperjuangkan keadilan, sikap tepa slira menghargai perbedaan yang ada dan bela rasa bersama mereka yang menderita. Sedangkan tanggung jawab pendidikan agama biarlah dikembalikan kepada orangtua di keluarga dan pemuka agama di masyarakat.
Namun perlu diingat bahwa semua itu harus dilandasi dan diwarnai oleh cinta. Pelajaran budi pekerti sempat berkali-kali diusulkan untuk diajarkan kembali di sekolah. Sempat terjadi kontroversi perlu tidaknya dikembalikannya budi pekerti ke sekolah. Namun, pada umumnya suara setuju terhadap dikembalikannya budi pekerti ke sekolah-sekolah yang menjadi suara dominan. Satu-satunya kendala bagi kembalinya budi pekerti ke sekolah adalah teknis komposisi mata pelajaran sekolah yang sudah terlalu padat jenis dan jam pelajarannya. Kendala lain adalah bentuk pelajaran seperti apa yang cocok bagi materi budi pekerti dewasa ini. Tentu saja maraknya usul mengembalikan budi pekerti ke sekolah dipicu oleh keprihatinan yang meluas di masyarakat terhadap kondisi ‘moral etik’ anak-anak sekolah, khususnya di kota-kota besar.
Pam Schiller & Tamera Bryant (2001) mengemukakan, bahwa saat ini adalah waktunya untuk menentukan apakah nilai-nilai moral penting bagi masa depan anak-anak kita dan keluarga kita, dan kemudian mendukung dan mendorong mereka mempraktikkan nilai-nilai moral tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita. Siapa yang bertanggung-jawab untuk mengajarkan nilai-nilai moral ini pada anak-anak kita? Tanggung-jawab itu dipikul oleh kita semua. Apakah kita menyadari atau tidak, kita selalu mengajarkan nilai moral, tetapi kita harus lebih berusaha keras untuk mengajarnya. Nilai-nilai moral yang kita tanamkan sekarang, sadar atau tidak sadar, akan mempunyai pengaruh yang sangat besar pada masyarakat yang akan datang.

Political Will Kepala Daerah Setempat
Sebagai penanggung jawab penyelenggaraan pendidikan di Kota Tangerang, saya sering ditanya oleh wartawan dan pejabat-pejabat di bidang pendidikan dari berbagai pemerintah daerah yang berkunjung ke Kota Tangerang terkait keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di Kota Tangerang, baik pada aspek prestasi akademik anak didik, pengadaan sarana hingga terciptanya budaya, dinamika dan iklim pendidikan yang berlangsung di Kota Akhlakul Karimah ini sehingga Kota Tangerang terus memperoleh beragam prestasi yang membanggakan di tingkat nasional.
Faktor utama yang memberikan dampak luar biasa terhadap grafik signifikan dari dinamika pendidikan di Kota Tangerang adalah keberanian dan kepedulian tinggi (political will) dari Walikota Kota Tangerang, Bapak Drs. H. Wahidin Halim, M. Si (WH) untuk mewujudkan iklim pendidikan Kota Tangerang yang mendukung terciptanya prestasi para peserta didik dan para tenaga pendidikannya. Semenjak dipercaya masyarakat memimpin Kota Tangerang, Pak WH benar-benar fokus meningkatkan kinerja dan iklim pendidikan yang kondusif bagi penyelenggaraan pendidikan yang unggul.
Kesejahteraan para tenaga pendidik diperhatikan melalui berbagai insentif yang nominalnya terus meningkat seiring peningkatan kinerja dan prestasi pendidikan di Kota Tangerang. Sarana dan fasilitas-fasilitas pendidikan dilengkapi agar peserta didik tidak mengeluh lagi soal kebutuhan terhadap fasilitas-fasilitas pembelajaran. Akses pendidikan untuk seluruh warga dibuka seluas-luasnya tanpa memandang latar belakang ekonomi peserta didik. Siapapun dan apapun satusnya, setiap anak di Kota berhak mendapatkan layanan pendidikan terbaik dan memperoleh ruang untuk perkembangan kepribadiannya. Dan ketika seluruh aspek-aspek dan prasyarat untuk pengembangan pendidikan dapat diwujudkan, maka prestasi dan iklim yang kondusif dapat diraih dengan sendirinya. Ada pameo di kalangan praktisi dan pemerhati pendidikan di Kota Tangerang, bahwa tidak ada sekolah-sekolah tertentu yang berlabel unggulan, semua sekolah di Kota Tangerang adalah sekolah unggulan.
Pengakuan dari berbagai pihak tentu menuntut tanggung jawab dan konsistensi semua pihak yang menjadi garda terdepan dalam penyeleenggaraan pendidikan di Kota Tangerang. Para guru agar terus mengupayakan kualitas pendidikan semakin dekat pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk organisasi pendidikan yang bersifat otonom sehingga mampu malakukan inovasi dalam pendidikan menuju lembaga yang beretika, selalu mengunakan nalar, berkemampuan komunikasi sosial yang positif dan memiliki sumber daya manusia yang sehat dan tangguh. Pendidikan nasional juga bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika), memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab), berkemampuan komunikasi sosial (tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompetitif, demokratis), dan berbadan sehat sehingga menjadi manusia mandiri