RAMADLAN SYAHRU AT-TARBIYAH
Oleh : Drs. H. Zaenudin, MM. M. Pd
(Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang)

Bulan Ramadhan disebut dengan syahrut Tarbiyah atau bulan pendidikan, karena pada bulan ini kita dididik langsung oleh Allah SWT. Seperti makan pada waktunya sehingga kesehatan kita terjaga. Atau kita diajarkan oleh Allah SWT supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan kita. Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah. Kita juga dididik untuk bisa bersabar dengan menahan lapar dan haus.
Ramadan adalah bulan pendidikan, karena pada bulan ini orang-orang beriman dididik untuk berlaku disiplin dengan aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya. Secara fisik, Allah mendidik orang yang menunaikan puasa untuk disiplin dalam mengatur pola makan. Secara psikis, Allah juga mendidik orang berpuasa untuk berlaku sabar, jujur, menahan amarah, berempati, berbagi kepada orang lain, serta sifat-sifat luhur lainnya. Secara fikri, Allah mendidik agar orang-orang beriman senantiasa bertafakur dan mengambil pelajaran-pelajaran yang bermakna bagi kehidupannya.
Puasa di bulan Ramadan layaknya sekolah khusus yang tahun ajaran barunya selalu dibuka setiap tahun dengan tujuan pendidikan praktis dalam menyerap nilai-nilai yang paling tinggi. Barangsiapa memasukinya untuk mendapatkan karunia Ilahi, kemudian ia berpuasa sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, lalu ia dapat melakukan ibadah tambahan sesuai yang telah disyariatkan, maka ia akan lulus dengan menyandang gelar mutaki atau orang yang takwa kepada Allah (muttaqin). Dengan gelar sebagai orang bertakwa, maka orang akan mendapatkan jaminan ampunan dari Allah swt dan terbebas dari api neraka.
Paling tidak, ada tiga hal yang menjadi keutamaan dan tuntutan dalam bulan pendidikan ini. Ketiganya perlu dipahami dan dipraktikan dalam rangka mencari keutamaan di bulan Ramadlan, dan jangan sampai puasa berlalu begitu saja tanpa bekas, makna, dan manfaat yang bisa dipetik untuk diri dan masyarakat kita semua.
Pertama, puasa adalah bulan yang mendidik jiwa atau yang biasa disebut tahzibun nafsi. Pada bulan ini, manusia dituntut untuk melatih dirinya agar selalu dekat dan merasa diawasi oleh Allah. Sebab, dengan memiliki perasaan dekat dengan Allah, maka setiap manusia, baik di manapun, kapanpun, dalam kondisi bagaimanapun, dan apa pun jabatannya akan selalu mengingat Allah. Oleh karena itu, puasa merupakan ibadah yang membentuk manusia untuk selalu ingat akan Allah. “Sungguh kami yang menciptakan manusia dan kami tahu apa yang dibisikkan dalam hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.” (QS: Qaff. Ayat: 16)
Kedua, membuka wawasan atau yang disebut dengan tamliul fikri. Pada bulan Ramadan, semua media baik elektronik dan surat kabar menampilkan rubrik-rubrik khusus tentang dakwah dan berbagai acara tentang siraman rohani. Selain itu, setiap instansi, baik pemerintahan maupun swasta, selalu mengadakan pengajian dan ceramah agama. Kemudian juga ada pesantren kilat yang mengajarkan pendidikan Islam dalam rentang waktu yang relatif singkat. Jadi, semua itu terbentuk dengan rahmat dan berkat yang diberikan Allah dalam bulan Ramadan. Oleh karena itu, nilai filosofi dari puasa harus tertanam dalam setiap diri pribadi muslimin. Terutama mereka yang ingin membuka pengetahuan dan wawasan yang tinggi.
Dan terakhir adalah memperbaiki perilaku atau dalam bahasa Arab biasa disebut dengan tuhsinul khulqi. Pada bulan yang penuh berkah ini, umat Islam harus menjauhkan diri mereka dari sifat menggunjing, mencaci, mengupat, memfitnah, dan penyakit hati lainnya. Meski sifat itu diharamkan dalam Islam, tapi selama bulan Ramadan, sedikit saja sifat itu tersirat di dalam hati orang yang berpuasa, maka sungguh ia telah menghilangkan segala pahala ibadah puasanya.
Untuk itu, setiap pribadi muslim harus menggunakan kesempatan beramal dan berbuat baik selama bulan Ramadan. Seperti kata Imam Ghazali: Beruntunglah orang-orang yang menanam pohon kebaikan dan kebenaran. Merugilah orang-orang yang membiarkan tanah subur ditumbuhi rumput-rumput yang tiada bermakna. Oleh karena itu, gunakanlah kesempatan belajar, berkarya, dan beramal di bulan nan suci ini. Semoga kita senantiasa mendapat rahmat dan menjadi manusia yang takwa.