RAMADLAN MENAJAMKAN MATA HATI
Oleh : Drs. H. Zaenudin, MM. M. Pd
(Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang)

Mata Hati dalam Istilah Tasawuf biasa diebut dengan Al Bathinah merupakan Indera keenam yang Allah berikan kepada setiap manusia, Mata Batin ibarat kaca yang dapat melihat sesuatu (bercermin) atau ibarat pisau tumpul yang dapat diasah sampai tajam sehingga dapat memotong sesuatu benda. Setiap manusia mempunyai mata batin yang asal mulanya Allah ciptakan bersih tanpa ada noda sedikitpun tetapi kemudian dinodai oleh sifat-sifat buruk dan keduniawian.
Dan dalam kesempatan bulan penuh maghfirah dan sarat keberkahan ini, Allah memerintahkan umat Islam untuk mengasah kembali ketajaman hati nurani melalui berbagai pendisiplinan dan pelatihan (Riyadlah) sehingga di akhir perjalanan Ramadlan nanti atmosphere kebatinan kita diharapkan dapat kembali tajam dan mengkilau layaknya pada mata hati di saat kita berada pada masa kecil dahulu.
Ketika kita masih kecil mata batin kita masih bersih sehingga dapat dengan mudah membaca isyarat Tuhan melalui kejadian sehari-hari dan mudah menangkap Ilmu Pengetahuan, tetapi setelah kita besar mata batin kita sudah ternodai oleh sifat-sifat buruk dan keduniawian sehingga tidak dapat membaca pesan-pesan Tuhan melalui ayat-ayat kauniyah tempat mata hati adalah Qalbu ( hati nurani ) yang selalu berubah setiap saat sesuai dengan perbuatan manusia sehari-hari, jika berbuat jahat akan lupa kepada Allah maka Qalbu itu menjadi kotor dan jika berbuat baik, nurani akan bersih kembali.
Orang yang tajam mata hatinya amat suka memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah dengan mata kepalanya, kemudian merenungkannya dengan mata hati. Dan ketika akan melakukan sesuatu atau memutuskan sesuatu, maka mereka akan menggunakan mata hatinya ketimbang hawa nafsunya. Karena ketajaman nurani, mereka akan tahu, apakah hawa nafsu yang mempengaruhi dirinya atau mata hatinya yang berkata. Oleh karena itu, orang yang sudah tajam nuraninya, akan memiliki pandangan yang bijaksana dalam segala urusan, bai yang berhubungan dengan diri maupun lingkungannya.
Datangnya bulan suci ini menjadi rahmat bagi setiap orang Islam, karena mereka yang menjalani puasa sebulan penuh dengan baik dan ikhlas akan disucikan Tuhan, sehingga pada saat mengakhiri puasanya, mereka akan seperti bayi yang dilahirkan kembali, i’dul fitri, artinya kembali suci. Puasa diwajibkan agar yang menjalaninya menjadi lebih bertakwa. Dalam tradisi sufi, menjalani puasa dengan menekan hawa nafsu dan menjauhkan kesenangan duniawi dapat membebaskan manusia dari kecenderungan negatif sehingga dapat mencurahkan hatinya hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Puncak pendekatan tulus kepada Tuhan adalah pembebasan batin dan pencerahan diri dari segala ikatan duniawi yang negatif.
Di tengah kehidupan bangsa yang dililit berbagai masalah, seperti kemiskinan, pengangguran, konflik kekerasan dan penderitaan di mana-mana, puasa kali ini menjadi amat penting untuk melakukan penajaman mata hati para pemimpin bangsa, sehingga mereka bisa membawa bangsa ini keluar dari kemelut krisis bangsa yang berputar-putar tanpa ujung. Penajaman mata hati membuat kekuasaan punya nyali dan hati nurani. Nyali untuk mengubah secara fundamental kehidupan bangsa dengan kekuatan hati nurani yang dapat melihat realitas dengan benar, tanpa bungkus dan kemasan artifisial.
Puasa bukan untuk memuaskan dorongan egoisme spiritual seseorang semata, karena egoisme spiritual yang bersifat pribadi tak akan pernah dapat memonopoli rahmat, berkat, dan ampunan Tuhan yang dijanjikan akan dilimpahkan secara besar-besaran pada bulan suci Ramadhan ini. Puasa sesungguhnya akan bermakna jika kesalihan sosial yang dilahirkannya dapat memperbaiki kualitas berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi penuh rahmat, damai, dan sejahtera. Puasa adalah bagian dari tugas fundamental Islam untuk menjadi rahmatan lil’alamin.